Banyak orang memahami bahwa setiap nabi membawa ajaran yang berbeda dan bahwa millah Ibrahim merupakan sesuatu yang hanya berkaitan dengan Nabi Ibrahim. Namun, Al-Qur’an menunjukkan adanya hubungan yang sangat jelas antara ṣirāṭ al-mustaqīm (jalan yang lurus) dengan millah Ibrahim yang hanif.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٦١
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus, suatu dīn yang benar, millah Ibrahim yang lurus, dan dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.’”
(QS. Al-An‘am [6]: 161)
Perhatikan bagaimana ayat ini menyebutkan beberapa hal secara berurutan:
هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus.”
Kemudian dijelaskan:
دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا
“Suatu dīn yang benar, millah Ibrahim yang hanif.”
Dengan demikian, Al-Qur’an menghubungkan jalan yang lurus dengan millah Ibrahim yang hanif. Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk menyatakan bahwa petunjuk yang beliau terima dari Allah adalah jalan yang lurus, yaitu millah Ibrahim yang hanif.
Siapakah Ibrahim?
Ibrahim adalah nabi yang dikenal sebagai Abraham. Al-Qur’an berkali-kali menjelaskan kedudukan Ibrahim sebagai seorang yang hanif, tunduk kepada Allah, dan tidak termasuk orang-orang musyrik.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا كَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا ۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ٦٧
“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang hanif dan muslim, dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 67)
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa identitas Ibrahim tidak dibatasi oleh label komunitas yang muncul kemudian. Ia adalah seorang hanif, yaitu orang yang berpaling dari kesyirikan menuju ketauhidan dan tunduk kepada Allah.
Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut millah Ibrahim, yang dimaksud bukan sekadar nama suatu kelompok, melainkan jalan ketauhidan yang lurus yang dicontohkan oleh Ibrahim.
Apakah Millah Ibrahim Hanya untuk Nabi Ibrahim?
Tidak. Al-Qur’an justru memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengikuti millah Ibrahim.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٢٣
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), ‘Ikutilah millah Ibrahim yang hanif dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik.’”
(QS. An-Nahl [16]: 123)
Perintah اَتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ (ittabi‘ millata Ibrāhīm) berarti “ikutilah millah Ibrahim.”
Ayat ini sangat penting. Jika millah Ibrahim hanya diperuntukkan bagi Ibrahim dan tidak memiliki hubungan dengan Nabi Muhammad ﷺ, tentu tidak akan ada perintah kepada Nabi Muhammad untuk mengikutinya.
Justru Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengikuti millah Ibrahim yang hanif.
Apa yang Terjadi Jika Seseorang Berpaling dari Millah Ibrahim?
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan peringatan yang sangat tegas:
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهِيْمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗ ۗ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا ۚ وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٣٠
“Siapa yang berpaling dari millah Ibrahim, kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri? Sungguh, Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 130)
Perhatikan ungkapan:
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهِيْمَ
“Siapa yang berpaling dari millah Ibrahim…”
Kemudian Allah berfirman:
اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗ
“kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri.”
Ini merupakan ungkapan Al-Qur’an yang sangat tegas. Berpaling dari millah Ibrahim bukanlah sesuatu yang dipuji. Allah menggambarkannya sebagai tindakan safīh, yaitu kebodohan atau membodohi diri sendiri.
Dengan demikian, seorang yang mengetahui kebenaran millah Ibrahim tetapi dengan sengaja berpaling darinya, menurut peringatan Al-Qur’an, pada hakikatnya sedang merugikan dan membodohi dirinya sendiri.
Millah Ibrahim dan Jalan yang Lurus
Jika kita memperhatikan beberapa ayat tersebut secara bersamaan, terlihat sebuah hubungan yang kuat:
QS. Al-An‘am [6]: 161
صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ — مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا
Ṣirāṭ mustaqīm — millah Ibrahim yang hanif.
QS. An-Nahl [16]: 123
اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا
“Ikutilah millah Ibrahim yang hanif.”
QS. Al-Baqarah [2]: 130
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهِيْمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗ
“Siapa yang berpaling dari millah Ibrahim, kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri?”
Maka, berdasarkan ayat-ayat tersebut, millah Ibrahim adalah jalan ketauhidan yang hanif dan lurus, yang juga diperintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk diikuti.
Ibrahim adalah Abraham, dan jalan yang dibawa Ibrahim adalah jalan untuk menyembah Allah semata serta menjauhi kesyirikan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “Apakah kita mengikuti Ibrahim atau tidak?”, tetapi:
Apakah kita benar-benar mengikuti millah Ibrahim yang hanif sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ?
Sebab Allah telah menyatakan bahwa Dia membimbing Nabi Muhammad ﷺ kepada ṣirāṭ al-mustaqīm, kemudian menjelaskan bahwa jalan tersebut adalah millah Ibrahim yang hanif.
Dan Allah telah memberikan peringatan:
“Siapa yang berpaling dari millah Ibrahim, kecuali orang yang membodohi dirinya sendiri?”
Maka sudahkah kita menempatkan millah Ibrahim sebagaimana kedudukannya yang dinyatakan Al-Qur’an: sebagai jalan ketauhidan yang lurus, hanif, dan bebas dari kesyirikan?
-HA-








