DIEN
“Harus Menggunakan Akal”
Dasar Pemikiran: QS. Yunus 10:100
Manusia diberikan akal sebagai sarana untuk berpikir, memahami, meneliti, dan mengambil pelajaran. Oleh karena itu, dalam memahami wahyu Allah, manusia tidak hanya diminta untuk mengikuti sesuatu secara kebiasaan, tetapi juga menggunakan akal untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah.
Penggunaan akal harus mengantarkan manusia kepada pemahaman, kesadaran, dan kepatuhan kepada Allah.
Intinya:
Akal digunakan untuk memahami kebenaran dan mengenali tanda-tanda kekuasaan Allah, sehingga manusia dapat mengambil sikap yang benar dalam kehidupannya.
STEP I
Memahami Pengertian DIEN
QS. Ali Imran 3:83
Ayat ini menjelaskan bahwa segala sesuatu yang berada di langit dan di bumi berada dalam ketundukan kepada Allah, baik secara sukarela maupun dalam ketentuan kekuasaan-Nya.
Makna Pokok
Langit dan bumi berada dalam keadaan Islam/Aslama, yaitu:
- Berserah diri kepada Allah.
- Tunduk kepada ketetapan Allah.
- Patuh kepada hukum dan aturan Allah.
- Berjalan sesuai dengan sistem yang telah Allah tetapkan.
Alam semesta tidak berjalan secara sembarangan. Matahari, bulan, bumi, pergantian siang dan malam serta seluruh hukum alam berjalan sesuai dengan ketetapan Allah.
Dengan demikian, konsep Islam/Aslama dapat dipahami sebagai keadaan berserah diri dan tunduk patuh kepada ketetapan Allah.
DIEN sebagai Sistem Aturan
Dalam beberapa penggunaan bahasa Al-Qur’an, kata Dien memiliki makna yang berkaitan dengan:
- Aturan
- Hukum
- Ketentuan
- Sistem
- Tata kehidupan
- Kepatuhan dan pertanggungjawaban
Salah satu contoh penggunaan kata Dien dapat dilihat dalam QS. Yusuf 12:76, yang menunjukkan penggunaan istilah tersebut dalam konteks aturan atau sistem hukum.
Dengan demikian:
DIENUL-ISLAM
Dienul-Islam adalah sistem tatanan hidup dan kehidupan yang berlandaskan pada sikap berserah diri, tunduk, dan patuh kepada hukum, aturan, serta ketetapan Allah.
Dien bukan hanya berkaitan dengan kegiatan ibadah tertentu, tetapi mencakup seluruh sistem kehidupan manusia.
Dien meliputi:
- Hubungan manusia dengan Allah.
- Hubungan manusia dengan sesama manusia.
- Hubungan manusia dengan alam.
- Hukum dan keadilan.
- Tata kehidupan sosial.
- Kepemimpinan dan tanggung jawab.
- Moral dan akhlak.
- Sistem kehidupan yang sesuai dengan ketetapan Allah.
MEMAHAMI ISTILAH “AGAMA” DAN “DIEN”
Dalam pembahasan ini, penting untuk membedakan antara istilah “agama” sebagai kata yang digunakan dalam bahasa dan kebudayaan tertentu dengan istilah “Dien” dalam Al-Qur’an.
Kata Dien merupakan istilah Al-Qur’an yang memiliki cakupan makna luas, antara lain berkaitan dengan:
- Ketundukan.
- Kepatuhan.
- Aturan.
- Hukum.
- Sistem kehidupan.
- Pertanggungjawaban.
Sedangkan istilah agama digunakan dalam bahasa Indonesia untuk menyebut sistem kepercayaan atau keyakinan.
Oleh karena itu, dalam kajian ini, Dien perlu dipahami lebih luas daripada sekadar pengertian agama dalam arti ritual atau identitas kelompok.
Kesimpulan STEP I
Dien adalah sistem kehidupan yang menuntut manusia untuk tunduk dan patuh kepada ketentuan Allah.
Islam berarti penyerahan diri kepada Allah dan kesediaan untuk hidup sesuai dengan aturan-Nya.
STEP II
PERINTAH UNTUK MENEGAKKAN DIEN
QS. Asy-Syura 42:13
Allah menjelaskan bahwa Dia telah mensyariatkan kepada manusia prinsip Dien yang juga diwasiatkan kepada para nabi.
Dalam ayat ini disebutkan:
- Nuh
- Ibrahim
- Musa
- Isa
- Dan wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW
Pesan utama ayat tersebut adalah:
“Tegakkanlah DIEN dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.”
PERINTAH UTAMA
1. TEGAKKANLAH DIEN
Menegakkan Dien berarti berusaha menghadirkan nilai-nilai dan ketentuan Allah dalam kehidupan.
Menegakkan Dien tidak hanya berarti berbicara tentang agama, tetapi juga berusaha mewujudkan:
- Ketaatan kepada Allah.
- Keadilan.
- Kebenaran.
- Amanah.
- Persaudaraan.
- Tanggung jawab.
- Akhlak yang baik.
- Kepatuhan kepada ketentuan Allah.
Dien harus menjadi pedoman dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama.
2. LARANGAN: JANGAN MENYEKUTUKAN ALLAH
Landasan utama dalam menegakkan Dien adalah Tauhid.
Tauhid berarti:
Mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Karena itu, setiap bentuk kehidupan yang dibangun atas dasar Dien harus berawal dari:
TAUHID
Allah sebagai pusat penghambaan, ketaatan, dan sumber tertinggi dari nilai serta ketentuan kehidupan.
BENTUK DIEN YANG DITEGAKKAN
Dien yang ditegakkan dalam kehidupan dapat diwujudkan melalui beberapa aspek:
1. HUKUM ALLAH
Manusia harus memahami bahwa kehidupan memiliki aturan dan batasan.
Ketaatan kepada Allah mengajarkan manusia untuk:
- Menegakkan keadilan.
- Menjauhi kezaliman.
- Menjaga hak orang lain.
- Melaksanakan amanah.
- Bertanggung jawab atas perbuatannya.
2. AJARAN ALLAH
Dien memberikan petunjuk kepada manusia tentang:
- Apa yang benar dan salah.
- Apa yang baik dan buruk.
- Apa yang halal dan haram.
- Bagaimana manusia harus menjalani kehidupannya.
3. TATA CARA KEHIDUPAN
Dien bukan hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah.
Dien juga mengatur bagaimana manusia:
- Berkeluarga.
- Bermasyarakat.
- Bekerja.
- Bermuamalah.
- Memimpin.
- Menjaga lingkungan.
- Menolong sesama.
- Menegakkan keadilan.
4. SIKAP BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH
Dasar dari seluruh pelaksanaan Dien adalah:
ISLAM / ASLAMA
Yaitu:
Berserah diri, tunduk, dan patuh kepada Allah.
Manusia yang menjalankan Dien berusaha menyelaraskan kehidupannya dengan petunjuk Allah.
KESIMPULAN QS. ASY-SYURA 42:13
QS. Asy-Syura 42:13 memberikan pemahaman bahwa terdapat kesinambungan risalah para nabi dalam mengajak manusia kepada ketundukan dan kepatuhan kepada Allah.
Para nabi membawa manusia untuk:
- Mengenal Allah.
- Menyembah Allah.
- Tidak menyekutukan Allah.
- Menjalankan kehidupan berdasarkan petunjuk Allah.
- Menegakkan nilai kebenaran dan keadilan.
Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad SAW membawa manusia kepada prinsip dasar:
TAUHID DAN KETAATAN KEPADA ALLAH
PESAN UTAMA: TEGAKKAN DIEN
Menegakkan Dien berarti menjadikan nilai-nilai Allah sebagai pedoman dalam kehidupan.
Dien harus tercermin dalam:
PRIBADI
- Keimanan.
- Akhlak.
- Kejujuran.
- Disiplin.
- Tanggung jawab.
KELUARGA
- Kasih sayang.
- Pendidikan.
- Tanggung jawab.
- Saling menghormati.
MASYARAKAT
- Keadilan.
- Persaudaraan.
- Kepedulian.
- Tolong-menolong.
KEPEMIMPINAN
- Amanah.
- Keadilan.
- Kejujuran.
- Tanggung jawab.
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan peserta memahami:
1. MEMAHAMI MAKNA DIEN
Bahwa Dien dalam Al-Qur’an memiliki makna yang luas dan berkaitan dengan:
- Ketundukan.
- Kepatuhan.
- Aturan.
- Hukum.
- Sistem kehidupan.
- Pertanggungjawaban.
2. MEMAHAMI QS. ALI IMRAN 3:83
Penekanan Ayat:
Langit dan bumi berada dalam ketundukan kepada Allah.
Seluruh alam semesta berjalan berdasarkan ketetapan dan hukum Allah.
Pesan Keilmuan:
Manusia seharusnya menyadari bahwa dirinya juga merupakan bagian dari ciptaan Allah dan harus hidup sesuai dengan petunjuk-Nya.
3. MEMAHAMI QS. ASY-SYURA 42:13
Penekanan Ayat:
Allah memerintahkan untuk:
“TEGAKKANLAH DIEN”
Prinsip ini merupakan bagian dari kesinambungan risalah yang dibawa oleh para nabi.
Dalam ayat tersebut disebutkan:
- Nuh AS.
- Ibrahim AS.
- Musa AS.
- Isa AS.
- Nabi Muhammad SAW.
Pesan Keilmuan:
Risalah para nabi memiliki dasar utama, yaitu mengajak manusia kepada Tauhid dan kepatuhan kepada Allah.
RANGKUMAN MATERI
DIEN
Dien adalah konsep yang berkaitan dengan sistem kehidupan, aturan, hukum, kepatuhan, dan pertanggungjawaban.
ISLAM / ASLAMA
Islam berarti berserah diri dan tunduk patuh kepada Allah.
DIENUL-ISLAM
Dienul-Islam adalah sistem kehidupan yang dibangun atas dasar:
- Tauhid.
- Ketundukan kepada Allah.
- Kepatuhan terhadap ketentuan Allah.
- Keadilan.
- Kebenaran.
- Amanah.
- Akhlak.
PERINTAH ALLAH
“TEGAKKANLAH DIEN”
Dien harus diwujudkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan seluruh aspek kehidupan.
LARANGAN UTAMA
JANGAN MENYEKUTUKAN ALLAH
Tauhid adalah dasar utama dalam menjalankan Dien.
PENUTUP
Memahami Dien membutuhkan iman, ilmu, dan penggunaan akal. Manusia diperintahkan untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan memahami petunjuk-Nya.
Langit dan bumi berjalan dalam ketundukan kepada Allah.
Demikian pula manusia, sebagai makhluk Allah, dipanggil untuk memilih jalan kehidupan yang sesuai dengan petunjuk-Nya.
Karena itu, tugas manusia bukan hanya mengetahui tentang Dien, tetapi juga berusaha memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan.
“TEGAKKAN DIEN, KUATKAN IMAN, DAN WUJUDKAN KETAATAN KEPADA ALLAH.”
ILMU → PAHAM → IMAN → TAAT → AMAL








