Beda Qalbu dan Hati

Banyak orang menganggap bahwa qalbu dan hati adalah sesuatu yang sama. Bahkan dalam berbagai terjemahan, kata qalbu sering diterjemahkan menjadi “hati”. Padahal, jika dipahami dari sudut pandang bahasa dan Al-Qur’an, keduanya memiliki makna yang berbeda.

Secara medis, hati adalah organ tubuh yang dikenal sebagai liver. Dalam bahasa Inggris disebut liver, sedangkan dalam bahasa Arab disebut kabid (الكبد). Organ ini memiliki fungsi biologis, di antaranya menetralisir racun dalam tubuh, menyimpan cadangan energi dalam bentuk glikogen, serta menjalankan berbagai proses metabolisme yang menjaga kehidupan manusia.

Adapun qalbu (قلب) berasal dari kata qalaba (قلب – يقلب) yang berarti berbolak-balik, berubah, atau berbalik arah. Karena itu, qalbu bukanlah organ hati (liver), melainkan pusat proses menerima, mempertimbangkan, dan menentukan sikap terhadap setiap informasi yang masuk kepada manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah qalbu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa kualitas seluruh perilaku manusia sangat ditentukan oleh keadaan qalbunya. Ketika qalbu bersih, maka ucapan, pikiran, dan perbuatan akan ikut menjadi baik. Sebaliknya, apabila qalbu dipenuhi keburukan, maka seluruh amal manusia pun akan terpengaruh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan, dan af’idah (hati nurani) agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl [16]: 78)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan belum memiliki pengetahuan, seperti kertas putih yang belum ditulisi. Pengetahuan diperoleh melalui pendengaran dan penglihatan, kemudian diproses dalam diri manusia hingga membentuk keyakinan dan sikap hidupnya.

Dalam kajian ini dipahami bahwa informasi diterima melalui bashar (penglihatan) dan sam’a (pendengaran), kemudian diproses oleh fu’ad, diteruskan ke shudur sebagai tempat penyimpanan, dan akhirnya nafs menggerakkan manusia untuk bertindak sesuai dengan apa yang tersimpan di dalamnya. Di dalam proses inilah qalbu berperan sebagai pusat yang selalu dapat berubah, menerima atau menolak kebenaran.

Oleh karena itu, qalbu tidak sama dengan hati (liver). Hati adalah organ fisik yang bekerja menjaga kehidupan jasmani, sedangkan qalbu adalah pusat pengambilan sikap yang menentukan kualitas keimanan, akhlak, dan amal seseorang. (HA)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *