Sahabat pembaca, sering kita mendengar kalimat Tuhan dan Tuan, namun pengucapan Tuhan dialamatkan untuk Tuhan yang di langit, dan Tuan untuk tuan di bumi (manusia). Mari kita simak dan pahami penggunaan yang benar dari kedua kalimat tersebut.
Etimologi kata Tuhan berasal dari kata Tuan. Makna “Tuhan” dengan “Tuan” tidak dapat dipisah, yaitu yang memerintah atau berkuasa, raja, pengendali, majikan, yang menjadi pemilik, yang dihormati, yang harus ditaati dan dipatuhi oleh manusia sebagai “budak” atau “hamba” dari Tuan-nya itu.
Pada abad 17 di Batavia, Melchior Leijdecker, pendeta, dokter dan penerjemah Alkitab asal Belanda mengubah terjemahan Tuan menjadi Tuhan agar tidak rancu dalam penggunaannya, sehingga dapat dibedakan antara Tuan yang di langit dengan Tuan yang di bumi, sehingga dalam kehidupan beragama, manusia menyebutnya Tuhan, namun dalam kehidupan bermasyarakat, manusia menyebutnya Tuan (kepada majikannya).
Baca juga: https://manuskripkehidupan.com/dien-al-islam-dalam-al-quran-part-ii/
Istilah “Tuan” dalam Al-Quran, Yūsuf [12]: 50, kata rabbika diterjemahkan tuanmu, namun kata rabbīy diterjemahkan Tuhanku, keduanya berakar dari kata rabb, tetapi diartikan dalam dua terjemahan yang berbeda.
Dalam QS. Al-Isrā’ [17]: 24, rabb juga berarti pendidik; orang tua yang mendidik (rabba) anak-anaknya saat kecil.
Dalam QS. An-Nāzi’āt [79]: 21-24, Fir’aun mengaku dirinya sebagai rabb, bukan mengaku dirinya sebagai Tuhan, tetapi pengakuan dirinya sebagai pengatur, penguasa, dan pusat pengabdian di Mesir.
Dalam QS. Yusuf [12]: 53, kata rabb diartikan sama dengan kata ilah atau tuan yang memerintah manusia untuk melakukan perbuatan yang jahat (hawa nafsu).
Kata rabb dalam Al-Quran seolah-olah tidak konsisten. Dengan ragam perbedaan terjemahan tersebut, bisa diambil sebuah makna/esensi dari kata rabb. Secara bahasa, kata rabb bersifat umum, memiliki makna sebagai: tuan, yang mencipta, yang mengatur, yang mendidik, yang memandaikan, yang memelihara, yang menguasai, pusat pengabdian yang ditaati kehendak dan perintahnya. Karena bermakna umum, maka apa pun dan/atau siapa pun dapat disebut dan/atau menjadi tuan.
Kata Tuan memiliki hubungan dengan hamba, manusia adalah hamba yang harus mengabdi kepada Tuannya, yaitu hubungan yang terkait dengan pengabdian. Manusia harus menjadikan Tuan Semesta Alam sebagai satu-satunya Tuan yang diabdi/ditaati. Tidak boleh ada pengabdian lain kecuali kepada pencipta hamba tersebut, yaitu Tuan Semesta Alam. Maka, bagi setiap manusia yang beriman tidak ada tuan yang dipatuhi kehendak dan perintahnya selain Tuan Semesta Alam, Tuan Yang Maha Esa.
Baca Juga: https://manuskripkehidupan.com/dien-al-islam-dalam-al-quran-part-ii/
Maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kata Tuhan berasal dari kata Tuan. Dampak dari perubahan ini berakibat secara ideologis: Pemaknaan Tuhan yang berada di langit dan hanya disembah adalah bentuk penyimpangan agar manusia tidak merasa syirik/menduakan Tuan, sehingga Tuan yang berada di bumi dapat memosisikan dirinya sebagai tuan (raja, presiden, perdana menteri, dsb.) yang menjadi pusat ketaatan di bumi, itulah Sekularisme. Allah Yang Mahakuasa adalah Tuan Semesta Alam Yang Maha Pencipta, Pengatur, Pendidik, dan Pusat Pengabdian seluruh makhluk di alam semesta. (LBA)








