Sahabat pembaca,
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, dan kesempatan kepada kita untuk terus mempelajari petunjuk-Nya.
Pada pembahasan sebelumnya kita telah mempelajari makna Islam dan Dien menurut Al-Qur’an. Selanjutnya, marilah kita memahami salah satu perintah Allah yang sangat penting, yaitu menegakkan Dien sebagaimana disebutkan dalam QS. Asy-Syūrā ayat 13.
1. Perintah Menegakkan Dien
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا وَٱلَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا۟ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا۟ فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ ٱللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ
Artinya:
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang Dien apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: ‘Tegakkanlah Dien dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.’ Sangat berat bagi orang-orang musyrik apa yang engkau serukan kepada mereka. Allah memilih kepada (Dien)-Nya siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada-Nya siapa yang kembali (bertobat).”
(QS. Asy-Syūrā: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan satu wasiat yang sama kepada para nabi, yaitu agar Dien ditegakkan dan manusia tidak berpecah belah di dalamnya.
2. Wasiat yang Sama kepada Para Nabi
Dalam ayat tersebut Allah menyebut lima nabi, yaitu:
- Nabi Nuh ‘alaihis salam.
- Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
- Nabi Musa ‘alaihis salam.
- Nabi Isa ‘alaihis salam.
- Nabi Muhammad ﷺ.
Meskipun syariat yang dibawa masing-masing nabi memiliki beberapa perbedaan sesuai dengan zamannya, namun pokok ajaran yang mereka bawa tetap sama, yaitu mengajak manusia bertauhid kepada Allah, menegakkan Dien-Nya, serta menjauhi kesyirikan.
3. Perintah dan Larangan dalam Ayat
Pada ayat ini terdapat dua penekanan utama.
Perintah:
أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ
“Tegakkanlah Dien.”
Yang dimaksud menegakkan Dien bukan sekadar mengakui Islam sebagai identitas, tetapi menghadirkan seluruh ketentuan Allah dalam kehidupan, baik dalam pengabdian, akhlak, muamalah, keadilan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Larangan:
وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
“Dan janganlah kamu berpecah belah di dalam Dien.”
Perpecahan terjadi ketika manusia meninggalkan petunjuk Allah dan lebih mengikuti hawa nafsu atau kepentingan golongan daripada berpegang kepada wahyu.
Selain itu, pada bagian akhir ayat Allah menjelaskan bahwa seruan kepada tauhid terasa berat bagi orang-orang musyrik, karena mereka enggan meninggalkan pengabdian selain Allah.
4. Bentuk Dien yang Ditegakkan
Dien yang diperintahkan untuk ditegakkan mencakup seluruh aturan yang Allah turunkan kepada manusia, di antaranya:
- Mengesakan Allah (tauhid).
- Tunduk dan patuh kepada seluruh perintah Allah.
- Menjalankan syariat-Nya.
- Menegakkan keadilan dan kebenaran.
- Menjauhi syirik.
- Menjaga persatuan di atas petunjuk Allah.
5. Penguatan dari Ayat Lain
Allah juga berfirman:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
Artinya:
“Maka apakah mereka mencari Dien selain Dien Allah, padahal kepada-Nya telah berserah diri semua yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 83)
Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh alam semesta telah tunduk kepada ketetapan Allah. Manusia sebagai makhluk yang diberi akal diperintahkan untuk tunduk kepada Allah dengan kesadaran dan pilihan, serta menegakkan Dien yang telah Dia syariatkan.
Baca juga:
Penutup
Sahabat pembaca,
QS. Asy-Syūrā ayat 13 mengajarkan bahwa menegakkan Dien bukanlah ajaran baru yang hanya dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Perintah tersebut merupakan wasiat Allah kepada para nabi sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad ﷺ.
Dien yang Allah syariatkan berlandaskan tauhid, mengajak manusia tunduk kepada-Nya, menjauhi kesyirikan, serta tidak berpecah belah dalam mengikuti petunjuk-Nya.
(HA)








