-Apa Itu Sholat?- PART I

Banyak orang menganggap bahwa sholat sama dengan sembahyang. Keduanya memang sering digunakan sebagai padanan dalam bahasa Indonesia, namun secara bahasa maupun makna, keduanya memiliki asal-usul yang berbeda.

Kata shalat (الصلاة) berasal dari bahasa Arab. Dalam Al-Qur’an, kata ini digunakan untuk menggambarkan hubungan seorang hamba dengan Allah yang diwujudkan dalam bentuk ketundukan, kepatuhan, dan penghambaan kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dan dirikanlah shalat.”
(Terdapat dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya QS. Al-Baqarah [2]: 43).

Shalat tidak hanya sekadar rangkaian gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam. Shalat merupakan bentuk hubungan yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya sehingga seluruh kehidupannya berada dalam ketaatan kepada Allah.

Allah juga berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ

“Mereka ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (hubungan) dengan Allah dan tali (hubungan) dengan manusia.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 112)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan seorang mukmin tidak hanya dibangun melalui hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia). Oleh karena itu, shalat yang benar akan melahirkan akhlak yang baik kepada manusia.

Adapun istilah sembahyang berasal dari bahasa Melayu Kuno yang dipengaruhi bahasa Sanskerta, yaitu gabungan kata sembah dan hyang. Secara etimologis, kata ini digunakan untuk menyebut tindakan penghormatan atau pemujaan kepada sosok yang dianggap suci atau ilahi. Karena berasal dari tradisi bahasa yang berbeda, makna asal katanya tidak identik dengan makna shalat sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Dengan demikian, shalat tidak sekadar berarti sembahyang, tetapi merupakan ibadah yang membangun hubungan seorang hamba dengan Allah sekaligus membentuk hubungan yang baik dengan sesama manusia. Shalat bukan hanya aktivitas yang dilakukan beberapa menit dalam sehari, melainkan cara hidup yang mencerminkan ketundukan kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Lalu, jika shalat adalah hubungan dengan Allah dan sesama manusia, apakah orang yang rajin shalat tetapi masih berbuat zalim kepada orang lain telah memahami hakikat shalat yang sebenarnya? (Bersambung)

-HA-

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *