DIEN AL-ISLAM DALAM AL-QUR’AN PART I

Sahabat pembaca,

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, Islam, dan kesempatan kepada kita untuk terus mempelajari petunjuk-Nya.

Pada kesempatan ini, marilah kita bersama-sama memahami makna Islam dan Dien sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dengan memahami maknanya, kita diharapkan tidak hanya mengenal Islam sebagai identitas, tetapi juga sebagai sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.


1. Makna Islam

Secara bahasa, Islam berasal dari akar kata س ل م (sa-la-ma) yang berarti selamat, damai, dan berserah diri. Seorang muslim adalah orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah serta menaati seluruh perintah-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Inna ad-dīna ‘indallāhil-islām.

“Sesungguhnya dīen di sisi Allah hanyalah Islam.”

(QS. Ali ‘Imran: 19)

Allah juga berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Wa may yabtaghi ghairal-islāmi dīnan falan yuqbala minhu wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn.

“Barang siapa mencari dien selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.”

(QS. Ali ‘Imran: 85)


2. Seluruh Alam Berserah Diri kepada Allah

Jika kita memperhatikan alam semesta, kita akan menemukan bahwa seluruh ciptaan Allah berjalan sesuai ketentuan-Nya. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu keluar dari hukum yang telah Allah tetapkan.

Beberapa contoh sederhana adalah:

  • Air pada suhu 100°C akan mendidih (pada tekanan udara normal).
  • Air pada suhu 0°C akan membeku.
  • Pohon pisang sebelum mati akan mengeluarkan tunas sebagai kelangsungan hidupnya.
  • Jantung manusia terus berdetak tanpa diperintah oleh manusia.

Semua itu menunjukkan bahwa alam semesta tunduk kepada sunatullah, yaitu hukum-hukum Allah yang berlaku bagi seluruh ciptaan-Nya.

Allah berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Afaghaira dīnillāhi yabghūna wa lahu aslama man fis-samāwāti wal-arḍi ṭaw’an wa karhan wa ilaihi yurja’ūn.

“Maka apakah mereka mencari dien selain dien Allah, padahal kepada-Nya telah berserah diri semua yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”

(QS. Ali ‘Imran: 83)

Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan dan ketetapan Allah. Hanya manusialah yang diberi pilihan untuk taat atau membangkang terhadap syariat-Nya.


3. Apa yang Dimaksud dengan Dien?

Kata Dīn (الدِّين) dalam bahasa Arab memiliki makna yang sangat luas, di antaranya:

  • aturan,
  • hukum,
  • ketundukan,
  • balasan,
  • sistem kehidupan.

Oleh karena itu, Dienul Islam dapat dipahami sebagai:

“Sistem kehidupan yang dibangun atas dasar ketundukan dan kepatuhan kepada seluruh aturan, hukum, dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”


4. Tentang Istilah “Agama”

Dalam bahasa Indonesia, kata agama berasal dari bahasa Sanskerta. Salah satu pendapat etimologi menyebutkan bahwa:

  • A berarti “tidak”,
  • Gama berarti “pergi” atau “berjalan”,

sehingga dimaknai sebagai sesuatu yang tetap atau tidak berubah. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa pendapat lain mengenai asal-usul kata ini dalam kajian bahasa Sanskerta.

Sementara itu, Al-Qur’an menggunakan istilah ad-Dīn (الدِّين) yang memiliki cakupan makna lebih luas, yaitu meliputi keyakinan, aturan, hukum, ibadah, serta sistem kehidupan yang ditetapkan oleh Allah.


Penutup

Sahabat pembaca,

Islam bukan sekadar identitas yang tertulis pada kartu penduduk atau pengakuan di lisan. Islam adalah dien, yaitu sistem kehidupan yang mengajarkan manusia untuk tunduk dan patuh kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupannya.

Sebagaimana seluruh alam semesta telah tunduk kepada hukum Allah, sudah sepantasnya manusia yang diberi akal dan petunjuk menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ sebagai pedoman hidup.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan hati kita di atas dien-Nya, menambahkan ilmu yang bermanfaat, serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berserah diri kepada-Nya.

(HA)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *