Kepemimpinan Part I

Sahabat pembaca,

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman dan kesempatan kepada kita untuk terus mempelajari petunjuk-Nya.

Dalam kehidupan seorang muslim, tujuan hidup bukanlah sekadar mengejar kepentingan dunia. Allah memberikan kehidupan kepada manusia agar manusia mengabdi kepada-Nya dan menjalankan amanah yang telah diberikan.

Salah satu bagian penting dalam menjalankan amanah tersebut adalah memahami kepemimpinan dan bagaimana sebuah kehidupan yang teratur dibangun berdasarkan petunjuk Allah.

1. Tujuan Hidup adalah untuk Mengabdi

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku.”

(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah mengabdi atau mengabdi kepada Allah.

Pengabdian kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dengan menjalankan kehidupan sesuai dengan petunjuk dan ketentuan-Nya.

Dengan demikian, seorang manusia tidak hidup tanpa arah. Kehidupannya memiliki tujuan, yaitu mengabdi kepada Allah dan menjalankan amanah yang diberikan-Nya.

2. Rasul sebagai Contoh yang Paling Benar

Dalam menjalankan pengabdian kepada Allah, manusia membutuhkan contoh dan teladan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Artinya:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu.”

(QS. Al-Ahzāb: 21)

Rasulullah ﷺ merupakan teladan bagi umat manusia dalam menjalankan kehidupan berdasarkan petunjuk Allah.

Beliau bukan hanya memberikan pengajaran secara lisan, tetapi juga memberikan contoh melalui kehidupan nyata: bagaimana beribadah, bermuamalah, memimpin, bermasyarakat, menyelesaikan persoalan, dan menjalankan amanah.

Karena itu, ketika membicarakan kepemimpinan dalam Islam, Rasulullah ﷺ menjadi salah satu contoh utama yang perlu dipelajari.

3. Rasul Ditugaskan untuk Menegakkan Dien

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Artinya:

“Tegakkanlah Dien dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”

*(QS. Asy-Syūrā: 13)

Ayat tersebut menunjukkan adanya perintah untuk menegakkan Dien.

Menegakkan Dien bukanlah sesuatu yang dilakukan secara sembarangan. Ketika manusia ingin menjalankan suatu tujuan bersama, diperlukan keteraturan, pembagian tugas, tanggung jawab, dan kepemimpinan.

Karena itu, pembahasan tentang menegakkan Dien juga berkaitan dengan bagaimana manusia membangun struktur kehidupan yang teratur.

4. Kebaikan Membutuhkan Keteraturan

Sebuah tujuan yang besar tidak cukup hanya dengan adanya niat baik. Diperlukan keteraturan agar tujuan tersebut dapat dijalankan secara bersama-sama.

Sebuah kelompok yang memiliki tujuan bersama membutuhkan:

  • arah yang jelas,
  • kepemimpinan,
  • pembagian tanggung jawab,
  • aturan yang dipatuhi,
  • kerja sama,
  • serta keteraturan dalam menjalankan tugas.

Ada ungkapan yang sering disampaikan dalam pembahasan ini:

“Kebajikan yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh sebuah kejahatan yang sangat terorganisir.”

Ungkapan tersebut menekankan pentingnya organisasi dan keteraturan dalam menjalankan suatu tujuan.

Namun, keteraturan saja tidak cukup. Organisasi juga harus diarahkan kepada kebenaran dan dijalankan dengan cara yang benar.

5. Seperti Bangunan yang Kokoh

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gambaran tentang orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam keadaan teratur.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

(QS. Ash-Shaff: 4)

Ayat ini menggambarkan pentingnya barisan yang teratur dan kokoh.

Bangunan yang kokoh tidak tersusun dari satu bagian saja. Setiap bagian memiliki posisi dan fungsi. Demikian pula sebuah masyarakat membutuhkan keteraturan dan hubungan yang baik antara berbagai unsur di dalamnya.

Dari sini kita dapat memahami bahwa struktur kepemimpinan yang terorganisir merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan bersama.

6. Seperti Apakah Struktur Kepemimpinan Itu?

Setelah memahami pentingnya keteraturan, muncul pertanyaan:

Seperti apakah struktur kepemimpinan yang sesuai dengan petunjuk Allah?

Al-Qur’an memberikan berbagai gambaran tentang keteraturan ciptaan Allah. Salah satunya terdapat dalam firman-Nya:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya:

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…”

(QS. Āli ‘Imrān: 190–191)

Ayat ini mengajak manusia memperhatikan penciptaan langit dan bumi sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.

Alam semesta tidak berjalan secara kacau. Allah menciptakannya dengan ukuran, ketentuan, dan keteraturan.

Karena itu, dalam memahami kehidupan manusia, kita juga dapat mempelajari berbagai bentuk keteraturan yang Allah tunjukkan melalui ciptaan-Nya.

7. Langit dan Bumi

Al-Qur’an berulang kali menyebut langit dan bumi sebagai bagian dari ciptaan Allah.

Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

Artinya:

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.”

(QS. Al-Mulk: 3)

Ayat ini menunjukkan adanya lapisan atau tingkatan pada langit.

Allah menciptakan alam dengan susunan yang teratur. Gambaran tersebut dapat menjadi bahan renungan bagi manusia mengenai pentingnya susunan, tingkatan, dan keteraturan dalam menjalankan kehidupan.

Dalam pembahasan kepemimpinan, hal ini kemudian membawa kita kepada pembahasan mengenai struktur dan tingkatan kepemimpinan.

8. Tujuh Lapis Langit

Allah menyebutkan:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.”

(QS. Al-Mulk: 3)

Konsep tujuh langit disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai bagian dari ciptaan Allah.

Dalam pembahasan kepemimpinan, gambaran tersebut dapat menjadi pengantar untuk memahami bahwa sebuah struktur dapat memiliki tingkatan dan susunan, bukan berdiri tanpa aturan.

Namun, perlu dibedakan antara fakta tentang tujuh langit sebagai ciptaan Allah dengan penggunaan konsep tersebut sebagai analogi atau model struktur kepemimpinan. Al-Qur’an tidak secara langsung menyatakan bahwa tujuh lapis langit adalah struktur kepemimpinan manusia.

Penutup

Sahabat pembaca,

Kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari tujuan hidup manusia. Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, dan Rasulullah ﷺ telah memberikan contoh bagaimana kehidupan dijalankan berdasarkan petunjuk Allah.

Dalam konteks menegakkan Dien, diperlukan keteraturan, tanggung jawab, kerja sama, dan kepemimpinan agar tujuan bersama dapat dijalankan dengan baik.

Al-Qur’an juga mengajarkan kepada kita untuk memperhatikan keteraturan ciptaan Allah, termasuk langit dan bumi serta tujuh langit yang diciptakan-Nya.

Pada pembahasan selanjutnya, kita dapat melanjutkan kajian mengenai bagaimana struktur kepemimpinan tersebut dipahami dan bagaimana hubungan antara pemimpin, masyarakat, serta tingkatan kepemimpinan dalam kehidupan bersama.

Bersambung…

[HA]

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *