Siapakah Manusia Musrik Menurut Allah SWT?

Musyrik adalah orang yang melakukan syirik, yaitu mempersekutukan Allah Tuhan Semesta Alam dengan sesuatu yang lain dalam bentuk apapun.

Dalam pandangan Al-Qur’an, syirik dianggap sebagai dosa yang paling besar dan dibenci oleh Allah karena merusak pokok ajaran tauhid.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدِ افْتَـرٰۤى اِثْمًا عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 48)

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Menurut mayoritas ulama, syirik dapat terjadi jika seseorang:

Menyembah patung, berhala, matahari, percaya kepada dukun, atau benda tertentu. Selain itu, memohon kepada makhluk yang telah wafat dengan keyakinan bahwa mereka memiliki kekuasaan bisa memberi pertolongan.

Pertanyaannya apakah itu saja yang disebut perbuatan syirik?

Mari kita pahami firman Allah SWT di bawah ini:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَحَا كَمُوْۤا اِلَى الطَّا غُوْتِ وَقَدْ اُمِرُوْۤا اَنْ يَّكْفُرُوْا بِهٖ ۗ وَيُرِيْدُ الشَّيْـطٰنُ اَنْ يُّضِلَّهُمْ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 60)

Kenapa Allah melarang kita untuk mentaati Hukum Tagut, lalu siapakah Tagut disitu? (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *