Sahabat pembaca, dalam kehidupan ini setiap manusia memiliki standar kebenaran yang berbeda-beda. Ada yang menjadikan pendapat pribadi sebagai ukuran benar dan salah. Ada yang mengikuti suara mayoritas. Ada pula yang menjadikan tradisi nenek moyang sebagai pedoman hidup. Namun, apakah semua itu dapat dijadikan standar kebenaran yang hakiki?
Allah mengajarkan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh perasaan, jumlah pengikut, ataupun kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Kebenaran yang sejati hanyalah berasal dari Allah SWT, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Sering kali manusia merasa bahwa apa yang dipikirkannya adalah yang paling benar. Padahal kemampuan akal manusia sangat terbatas dan tidak mampu menjangkau seluruh hakikat kehidupan. Oleh karena itu, menjadikan pendapat pribadi sebagai standar kebenaran merupakan sesuatu yang sangat berbahaya apabila tidak didasarkan pada petunjuk Allah.
Selain itu, banyak orang beranggapan bahwa sesuatu yang dilakukan oleh banyak orang pasti benar. Padahal Allah telah mengingatkan bahwa mayoritas manusia tidak selalu berada di atas petunjuk.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
“Dan jika engkau menuruti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 116)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran kebenaran bukanlah jumlah pengikut. Sepanjang sejarah para nabi, justru kebanyakan manusia sering menolak kebenaran yang dibawa oleh para utusan Allah.
Di sisi lain, ada pula manusia yang menolak petunjuk Allah dengan alasan mengikuti tradisi leluhur yang telah berlangsung lama.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَا اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَا اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَآؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 170)
Melalui ayat ini Allah mengajarkan bahwa tradisi tidak boleh menjadi standar kebenaran. Tradisi yang sesuai dengan petunjuk Allah dapat dipertahankan, tetapi tradisi yang bertentangan dengan wahyu wajib ditinggalkan.
Lalu, apakah standar kebenaran yang sesungguhnya?
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, maka jangan sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 147)
Ayat ini memberikan jawaban yang sangat jelas bahwa standar kebenaran hanyalah apa yang datang dari Allah SWT. Karena itu, setiap orang wajib menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman dalam menentukan sikap, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.
Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk agar manusia tidak tersesat oleh hawa nafsu, opini pribadi, tekanan mayoritas, maupun tradisi yang menyimpang dari ajaran Allah. Ketika Al-Qur’an telah menjelaskan suatu perkara, maka tidak ada lagi ruang bagi seorang mukmin untuk mencari standar kebenaran yang lain.
Sahabat pembaca, marilah kita mengoreksi diri masing-masing. Jangan sampai kita lebih percaya kepada pendapat manusia daripada firman Allah, lebih mengikuti kebanyakan orang daripada petunjuk-Nya, atau lebih mempertahankan tradisi daripada kebenaran yang telah Allah turunkan.
Sebab pada akhirnya, standar kebenaran bukanlah apa yang dianggap benar oleh manusia, melainkan apa yang dinyatakan benar oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Barang siapa menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman hidupnya, maka ia akan mendapatkan petunjuk. Sebaliknya, siapa yang berpaling darinya, maka ia akan mudah terombang-ambing oleh berbagai ukuran kebenaran buatan manusia.
Karena itu, seorang mukmin hendaknya menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya standar kebenaran dalam hidupnya. Sebab kebenaran yang hakiki hanyalah berasal dari Allah SWT. (HA)








