Gaya Bahasa Al-Qur’an Part III

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang tidak hanya berfungsi sebagai bacaan, tetapi juga menjadi sumber petunjuk, penyembuh, pembenar, dan rahmat bagi seluruh manusia. Setiap ayat yang diturunkan memiliki tujuan untuk membimbing manusia menuju jalan yang benar. Namun, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang mau menerima kebenaran dengan qalbu (akal) yang terbuka. Sebaliknya, sikap fanatik terhadap tradisi, mengikuti pendapat mayoritas tanpa dalil, maupun memperturutkan hawa nafsu dapat menjadi penghalang dalam memahami Al-Qur’an secara benar.

Pada bagian ini akan dibahas fungsi-fungsi utama Al-Qur’an sebagai petunjuk kehidupan, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai beberapa sikap yang menyebabkan seseorang sulit memahami kandungan Al-Qur’an sebagaimana yang diajarkan Allah SWT.


1. Fungsi Al-Qur’an

A. الشِّفَاءُ (Asy-Syifā’) – Penawar atau Obat

QS. Al-Isra’: 82

Allah SWT berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’ [17]: 82)

Al-Qur’an menjadi penawar bagi penyakit qalbu, seperti keraguan, kesombongan, kemunafikan, kegelisahan, dan berbagai persoalan kehidupan. Dengan memahami dan mengamalkan kandungannya, qalbu menjadi lebih tenang serta memperoleh petunjuk dari Allah SWT.


B. مُهَيْمِن (Muhaimin) dan مُصَدِّق (Mushoddiq)

QS. Al-Ma’idah: 48

Allah SWT berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan sebagai penjaga terhadap kitab-kitab itu.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Al-Qur’an memiliki dua fungsi penting, yaitu:

  • Muhaimin → menjadi pengawas, batu uji, atau tolok ukur terhadap ajaran yang ada.
  • Mushoddiq → membenarkan ajaran para nabi dan kitab-kitab sebelumnya yang masih sesuai dengan wahyu Allah.

Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi standar kebenaran bagi seluruh ajaran.


C. Pedoman, Petunjuk, dan Rahmat

QS. Al-Jatsiyah: 20

Allah SWT berfirman:

هَٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Jatsiyah: 20)

Al-Qur’an menjadi pedoman hidup yang mengarahkan manusia menuju jalan yang benar. Di dalamnya terdapat petunjuk dalam aspek akidah, pengabdian, akhlak, maupun kehidupan sosial. Bagi orang yang beriman, Al-Qur’an juga menjadi rahmat yang membawa keberkahan dan keselamatan.


2. Al-Qur’an Tidak Akan Bisa Dipahami Jika

Allah menjelaskan bahwa terdapat beberapa sikap yang dapat menghalangi seseorang dalam memahami petunjuk Al-Qur’an.

A. Mengikuti Ajaran Lama atau Nenek Moyang

QS. Al-Baqarah: 170

Allah SWT berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا

“Mereka berkata, ‘Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.'” (QS. Al-Baqarah: 170)

Fanatik terhadap tradisi tanpa menilai apakah sesuai dengan wahyu dapat menghalangi seseorang menerima kebenaran Al-Qur’an.


B. Mengikuti Kebenaran Kelompok

QS. Al-An’am: 116

Allah SWT berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am: 116)

Kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut. Seorang mukmin diperintahkan mengikuti dalil dan petunjuk Allah, bukan semata-mata mengikuti pendapat mayoritas atau kelompok tertentu.


C. Mengikuti Pendapat Pribadi (Hawa Nafsu)

QS. An-Najm: 28

Allah SWT berfirman:

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan.” (QS. An-Najm: 28)

Memahami Al-Qur’an berdasarkan hawa nafsu, prasangka, atau kepentingan pribadi tanpa ilmu akan menyebabkan penyimpangan dari makna yang sebenarnya. Oleh karena itu, pemahaman Al-Qur’an harus didasarkan pada ilmu, petunjuk Allah, dan dalil yang benar.


Kesimpulan

Al-Qur’an memiliki fungsi yang sangat agung sebagai Asy-Syifa’ (penawar), Muhaimin (batu uji), Mushoddiq (pembenar), serta sebagai pedoman, petunjuk, dan rahmat bagi manusia. Namun, seseorang tidak akan memperoleh pemahaman yang benar apabila masih terikat pada fanatisme terhadap tradisi, mengikuti mayoritas tanpa dasar, atau menafsirkan Al-Qur’an menurut hawa nafsunya sendiri. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran yang utama dengan qalbu yang terbuka dan sikap yang tunduk kepada petunjuk Allah SWT. (HA)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *