Meraih Keimanan Sejati

IMAN

Pengertian Iman

Secara Bahasa (Lughawi)

Kata iman berasal dari bahasa Arab:

آمَنَ – يُؤْمِنُ – إِيمَانًا

yang berarti percaya, membenarkan, atau meyakini.

Secara Umum

Iman adalah kepercayaan terhadap adanya kekuatan di luar kemampuan manusia, yaitu Allah SWT sebagai Rabb semesta alam.

Secara Syar’i (Menurut Al-Qur’an)

Iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi merupakan keyakinan yang dibangun atas petunjuk Allah melalui wahyu-Nya.

Allah Memberikan Ruh Wahyu

QS. Asy-Syura (42): 52

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya sebagai cahaya yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing kepada jalan yang lurus.”

Keterangan

Ayat ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang Kitab dan Iman diperoleh melalui Ruh yang berasal dari Allah, yaitu wahyu (Al-Qur’an).

Dalam ini dipahami bahwa:

  • Ruh adalah daya hidup atau daya gerak yang berasal dari Al-Qur’an sehingga tercermin dalam gaya hidup seorang mukmin.
  • Roh adalah arwah atau unsur kehidupan manusia.

Dengan demikian, tanpa memperoleh petunjuk melalui Ruh (wahyu Allah), seseorang tidak akan memahami hakikat iman dan Al-Qur’an.


Mitsaq (Perjanjian)

Iman juga berkaitan dengan adanya mitsaq (perjanjian) antara manusia dengan Allah. Keimanan bukan sekadar pengakuan, tetapi merupakan bentuk komitmen terhadap perjanjian yang telah Allah tetapkan.


Ciri-ciri Orang Beriman

QS. Al-Mujadilah (58): 22

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ…

Artinya:

“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya…”

Ayat ini menjelaskan bahwa orang beriman memiliki loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya serta tidak menjadikan orang yang memusuhi dien Allah sebagai tempat kecintaan yang mengalahkan keimanannya.


Grafik Iman

Tahapan pemahaman iman dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Tahu
  2. Kenal
  3. Mengerti
  4. Paham
  5. Memiliki Ruh
  6. Mengenal Allah

Semakin tinggi seseorang memahami Al-Qur’an dan mengamalkannya, semakin meningkat kualitas keimanannya hingga mengenal Allah dengan benar.


Metode Peningkatan Iman

1. Qiyamul Lail

QS. Al-Muzzammil (73): 1–4

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا ۝ نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا ۝ أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Artinya:

“Wahai orang yang berselimut. Bangunlah pada malam hari kecuali sedikit. (Yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari itu, dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.”


2. Menghafal Al-Qur’an (Tahfizh)

Orang yang menjaga Al-Qur’an akan semakin kuat hubungannya dengan Allah dan lebih siap menerima amanah agama.

QS. Al-Hasyr (59): 21

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Artinya:

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan terpecah belah karena takut kepada Allah.”

Ayat ini menunjukkan betapa agung dan beratnya kandungan Al-Qur’an.


Ujian Iman

QS. Al-‘Ankabut (29): 2

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”

Iman pasti akan diuji sebagai bukti kebenaran pengakuan seseorang.


Bentuk-bentuk Ujian

1. Goncangan Berat

QS. Al-Baqarah (2): 214

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ… أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Artinya:

“…Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang dengan berbagai cobaan hingga Rasul dan orang-orang yang beriman berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.”


2. Ketakutan, Kelaparan, Kekurangan

QS. Al-Baqarah (2): 155

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya:

“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”


3. Kebaikan dan Keburukan

QS. Al-Anbiya’ (21): 35

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya:

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”


Sumber Ujian

Dari Dalam Diri

QS. Ali ‘Imran (3): 14

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ…

Manusia diuji melalui kecenderungan terhadap hawa nafsu dan kesenangan dunia.

Dari Luar Diri

QS. At-Taubah (9): 24

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ…

Manusia diuji melalui keluarga, harta, pekerjaan, dan berbagai kecintaan dunia yang dapat mengalahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.


Aplikasi Iman

Sebenar-benarnya Orang Beriman

QS. Al-Hujurat (49): 15

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, serta berjuang dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”


Kesimpulan

Iman bukan hanya sekadar keyakinan di dalam hati, tetapi merupakan kepercayaan yang dibangun di atas petunjuk Allah melalui Al-Qur’an, dibuktikan dengan amal saleh, diuji melalui berbagai cobaan kehidupan, dan terus ditingkatkan melalui pengabdian seperti qiyamul lail, membaca serta menghafal Al-Qur’an. Puncak keimanan adalah tetap teguh tanpa keraguan serta melakukan pengorbanan kepada Allah sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 15. (HA)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *