AGAR DISEBUT ORANG BERIMAN

Sahabat pembaca, setiap orang tentu ingin disebut sebagai orang yang beriman di sisi Allah SWT. Namun, apakah cukup hanya dengan mengaku beriman? Al-Qur’an mengajarkan bahwa keimanan bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan harus dibuktikan dengan sikap, amal, dan ketaatan kepada Allah serta mengikuti petunjuk yang dibawa oleh para rasul-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَبِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ

“Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,’ padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 8)

Ayat ini menjadi peringatan yang sangat tegas bahwa pengakuan semata tidak menjadikan seseorang sebagai orang beriman. Allah mengetahui isi hati dan amal perbuatan manusia. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya mengklaim dirinya beriman, melainkan harus menunjukkan bukti keimanan dalam kehidupannya.

Lalu bagaimana cara agar benar-benar disebut sebagai orang beriman?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa jalan menuju keimanan yang benar adalah dengan meneladani Rasul. Apa yang dicontohkan oleh para rasul merupakan pedoman yang harus diikuti oleh setiap orang yang mengharapkan keridhaan Allah.

Allah juga berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Ali Imran 3: Ayat 31)

Melalui ayat ini Allah menjelaskan bahwa mengikuti Rasul merupakan bukti cinta kepada Allah dan menjadi jalan untuk memperoleh ampunan atas dosa-dosa.

Salah satu contoh yang ditunjukkan oleh orang-orang yang mempertahankan keimanan adalah berani meninggalkan kebatilan demi mempertahankan kebenaran.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ فَأْوُوْٓا اِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِّنْ اَمْرِكُمْ مِّرْفَقًا

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu.”

(QS. Al-Kahfi 18: Ayat 16)

Ayat ini mengajarkan bahwa orang yang beriman harus berani memisahkan diri dari kesyirikan dan kebatilan, walaupun harus berbeda dengan kebanyakan manusia.

Namun demikian, keimanan tidak akan dimiliki seseorang kecuali dengan izin Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تُؤْمِنَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يَعْقِلُوْنَ

“Dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah.”

(QS. Yunus 10: Ayat 100)

Karena itu, setiap mukmin harus senantiasa memohon petunjuk dan hidayah kepada Allah agar diteguhkan dalam keimanan.

Selain itu, para rasul merupakan orang-orang yang memiliki perjanjian yang kuat dengan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِذْ اَخَذْنَا مِنَ النَّبِيّٖنَ مِيْثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُّوْحٍ وَّاِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَاَخَذْنَا مِنْهُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi, dan dari engkau (Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 7)

Perjanjian ini menunjukkan kesungguhan para rasul dalam menaati Allah dan menyampaikan kebenaran kepada umat manusia. Orang yang ingin menjadi mukmin hendaknya mengikuti jejak mereka dengan memegang teguh perjanjian kepada Allah.

Selanjutnya Allah berfirman:

وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۙ وَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kamu agar beriman kepada Tuhanmu dan sungguh Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu benar-benar orang beriman.”

(QS. Al-Hadid 57: Ayat 8)

Ayat ini menegaskan bahwa Rasul mengajak manusia agar menjadi orang beriman, dan keimanan itu berkaitan dengan kesediaan untuk memenuhi perjanjian yang telah diambil oleh Allah.

Bahkan mengenai syafaat pada hari akhir, Allah memberikan syarat yang jelas.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا يَمْلِكُوْنَ الشَّفَاعَةَ اِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْدًا

“Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih.”

(QS. Maryam 19: Ayat 87)

Ayat ini menunjukkan bahwa syafaat bukan diberikan kepada orang yang sekadar mengaku beriman, melainkan kepada mereka yang memiliki dan memegang teguh perjanjian dengan Allah.

Sahabat pembaca, rangkaian ayat-ayat ini mengajarkan bahwa untuk disebut sebagai orang beriman tidak cukup hanya dengan ucapan. Seorang mukmin harus meneladani Rasul, mengikuti petunjuk yang dibawanya, berani meninggalkan kebatilan, serta memegang teguh perjanjian dengan-Nya. Inilah jejak yang telah dicontohkan oleh para rasul dan orang-orang sebelum kita.

Karena itu, marilah kita mengoreksi diri masing-masing. Jangan sampai kita termasuk orang yang hanya mengaku beriman, tetapi tidak menempuh jalan yang telah ditunjukkan Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang benar-benar beriman, istiqamah memegang perjanjian-Nya, serta memperoleh rahmat dan syafaat-Nya. (HA)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *