Al-Qur’an: Pembeda antara Haq dan Bathil (Al-Furqan)

Sahabat pembaca, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi sebagai pedoman hidup yang membimbing manusia menuju kebenaran. Melalui Al-Qur’an, manusia diajarkan bagaimana membedakan antara yang haq dan yang bathil (Furqan) sehingga tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).”

(QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki tiga dimensi utama, yaitu sebagai Hudan (petunjuk), Bayyinat (bukti-bukti yang nyata), dan Furqan (pembeda antara yang haq dan yang bathil).

Allah juga berfirman:

مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَاَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ

“Sebelumnya (kitab-kitab itu) menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan.”

(QS. Ali Imran [3]: 4)

Melalui ayat ini dipahami bahwa seseorang harus memiliki Furqan, yaitu kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah terlebih dahulu. Setelah mampu membedakan, barulah ia akan memperoleh petunjuk (Huda) yang mengantarkannya kepada jalan yang lurus.

Allah kemudian memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai perbedaan antara haq dan bathil.

وَهُوَ الَّذِيْ مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَآئِغٌ شَرَابُهٗ وَهٰذَا مِلْحٌ اُجَاجٌ

“Dialah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan; yang satu tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit.”

(QS. Al-Furqan [25]: 53)

Sebagaimana air tawar berbeda dengan air asin, demikian pula Allah membedakan dengan jelas antara haq dan bathil. Kebenaran bersumber dari Allah, sedangkan kebatilan berasal dari segala sesuatu yang dipertuhankan selain Allah.

Karena itu Allah tidak menghendaki sedikit pun adanya penyekutuan terhadap-Nya.

Allah berfirman:

وَلَا يُشْرِكُ فِيْ حُكْمِهٖٓ اَحَدًا

“Dan Dia tidak mengambil seorang pun sebagai sekutu dalam menetapkan hukum-Nya.”

(QS. Al-Kahfi [18]: 26)

Ayat ini menegaskan bahwa aturan hidup hanya milik Allah. Tidak ada aturan yang boleh disamakan atau ditempatkan lebih tinggi daripada hukum-Nya.

Allah juga berfirman:

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ

“Dan Dia tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaan-Nya.”

(QS. Al-Isra’ [17]: 111)

Kekuasaan mutlak berada di tangan Allah. Oleh sebab itu manusia tidak boleh memberikan kedudukan yang setara kepada selain-Nya.

Demikian pula dalam hal ketaatan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Tidak ada Tuhan selain Aku, maka abdilah Aku.'”

(QS. Al-Anbiya’ [21]: 25)

Seluruh rasul membawa ajaran yang sama, yaitu agar manusia hanya taat dan beribadah kepada Allah semata.

Orang yang memperoleh petunjuk akan tunduk kepada Al-Qur’an.

Allah berfirman:

فَيَعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْ

“Agar orang-orang yang diberi ilmu mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar-benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya.”

(QS. Al-Hajj [22]: 54)

Ketundukan kepada Al-Qur’an merupakan bukti bahwa seseorang berada di jalan ketakwaan. Sebaliknya, ketika manusia menolak hukum Allah, akibatnya telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ

(QS. Al-Ma’idah [5]: 44)

…فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

(QS. Al-Ma’idah [5]: 45)

…فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

(QS. Al-Ma’idah [5]: 47)

Allah juga mengingatkan:

ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah amal yang telah mereka kerjakan.”

(QS. Al-An’am [6]: 88)

Kemudian Allah menegaskan:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ…

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik…”

(QS. An-Nisa’ [4]: 48)

Dan Allah memperingatkan:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang benar dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.”

(QS. Al-Baqarah [2]: 42)

Sahabat pembaca, Al-Qur’an adalah Furqan yang membedakan dengan jelas antara haq dan bathil. Siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus. Sebaliknya, siapa yang mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, mempersekutukan Allah dalam aturan, kekuasaan, maupun ketaatan, maka ia terancam kehilangan amal, terjatuh dalam kesesatan, dan mendapat akibat yang telah Allah peringatkan dalam Al-Qur’an.

Karena itu, marilah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya ukuran dalam membedakan haq dan bathil, sehingga kehidupan kita senantiasa berada di atas petunjuk Allah SWT. (HA)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *